PADA PUISI

follow us

image

Puisi Sang Fajar - Oleh Samtriono

Puisi Sang Fajar.
Karya : Samtriono.
01 Januari 2018.

Kini nampaklah sang fajar;
Semangat jiwa bangkit;
Dengan rasa malas didaging;
Daging dililit kehangatan.

Sengal nafas berjalan dikehidupan;
Diperas daging tulang digerakkan;
Detak jantung detik waktu;
Dipeluk hari dengan keringat.

Angin menghempas jejak;
Tak terasa sunyi telah hilang;
Keangkuhan malam menghilang;
Ketukan langkah menghitung waktu.

Dimulai hari dengan sejarah;
Dirinya bagian papirus kehidupan;
Nadi hidup tak dapat disumbat;
Suatu saat hanya jejak tak berarti.

Lubuk hatiku bertanya pada alam;
Seandainya kita tak ada, alam tetap ada;
Kenapa kita ada di ruang dan waktu ?
Meskipun dihirup nafas tak berarti.

Dari masa ke masa;
Banyak daging tak dipilih;
Hanya menunggu tanah merah;
Luluran tanah merah menjadi debu.

Kedatangan sang fajar;
Menghitung langkah kematian;
Bukan mendapatkan harapan;
Semuanya hanya semu belaka.

Fajar tidak pernah membawa hidup;
Pancarannya rutinitas sang waktu;
Kini runitasnya membuat jiwa bosan;
Tuhan tahu nadi kehidupan kita.

Pancaran fajar terus bergelut;
Di angkasa luar hanya setitik saja;
Namun berarti bagi bulat bumi;
Fajar bagian terkecil bagi Bima Sakti.

--- o0o ---

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar