SANG PERINDU BULAN
Oleh: Cahwagu
Pungguk terdiam di sudut paling hening, nanar mata terobos reranting kering tempat memijak harap, menatap sang bulan imajikan hebatnya bercinta dengan deru sangat biru. Di keremangan melepas rindu penuh kehangatan.
Begitu gebu, rembulan memacu nʌfsu seirama malam, sinaran sirat birahi nan bergejolak, mencʋmbu melumat setiap inci sang pungguk dengan gelora paling gila.
Sang bulan nan berhasrat meluah gairah penuh desah memuncak, beriring gemintang menari gemulai di cakrawala hitam, terpacu asmara sepanjang temaram.
Hingga fajar membuka hari, ada koar penuh cinta dari pungguk penikmat sunyi.
Namun semua hanya sebatas angan, khayal sang pungguk kenikmatan itu ia rasakan, kusam bulu tak lah menggoda sang purnama, tatap tajam tanpa cahaya tak akan gemingkan angkuhnya.
Pungguk tetaplah perindu dibalik kelam menghitam, takdir Tuhan ....
Jambi, 28-02-2018
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar